Assalamu'alaikum
Saya ingin langsung menyambung postingan sebelumnya.
Saya baru bisa menggunakan internet setelah sebulan lebih di Austria. YA, sekarang saya sudah di Austria, tepatnya di kota Langenzersdof (30 Menit dari ibu kota Wina), lagi sebagai Au-pairmädchen di keluarga asli Austria.
Saya terbang tanggal 3 Oktober 2010 pukul 00.40 dengan maskapai penerbangan Emirates. Ada sedikit scene yang membuat saya geli. Waktu di rumah ayah saya menimbang koper hanya lebih 1,7 kg (dengan timbangan manual), saat itu ayah saya tidak menghawatirkan hal itu karena kalaupun harus dibongkar dan harus mengurangi barang bawaan ya silahkan saya pikirnya. Ketika sampai dibandara saya meminta pegawai pembungkus koper dengan pelastik untuk mengukur koper saya sebelum dibungkus, ternyata beratnya berubah (dengan timbangan di bandara) menjadi 33,7. Saat itu saya ragu apakah harus dibungkus ataau tidak, karena saya yakin walaupun dibungkus dengan pelastik, pasti berat akan bertambah, dan benar saja berat bertambah menjadi 35 sekian. Lama mengantri untuk "check in" akhirnya tiba giliran saya, ketika koper ditimbang pegawainya bilang "beratnya lebih 10 kg", saya langsung bengong dan mulai dagdigdug, kok bisa seberat itu. Karena saya mendapat masalah, saya dioper ke pegawai maskapai Emirates-nya. Dengan alasan saya datang ke Austria bukan untuk liburan dan akan tinggal lama di sana, juga mohon dipertimbangkan berat badan saya yang hanya 41 kg (sambil menunjuk bule barat yang sayaa yakin beratnya dua kali lipat saya), selain itu juga saya minta ditimbang ulang di timbangan lain, dan ternyata benar berat koper saya hanya 35,2 kg. Saat itu juga saya sadar "INI INDONESIA", saya dipermainkan dengan ditambah berat koper saya. Negosiasi terus saya lakukan. Akhirnya pegawai tersebut bilang "ok saya bisa bantu, tp saya tunggu anda di pintu gate". Masih bingung apa maksudnya akhirnya saya keluar ruang check in menemui keluarga yang juga tampak cemas. Saya memohon pertolongan ALLAH. ALLAH memberinya. Ayah saya mendekati 3 orang pemuda yang juga akan terbang ke Arab Saudi dengan pesawat saya. Dia ceritakan semua, dan 3 pemuda tersebut akhirnya mau menolong saya (juga membawakan ransel). Tiba saya harus meninggalkan tanah air, saya hanya bisa bilang "JANGAN NANGIS" ke ibu saya dan meminta doanya, juga ke yang lainnya yang ikut mengantar saya ke bandara. Kakipun melangkah didepan 3 pemuda tersebut. Ketika mendekati pintu gate, pegawai tadi mendekati saya. Saya sudah curiga dia akan meminta sebagian uang untuk melancarkan semuanya, dengan cepat salah satu pemuda yang saya kenal mendekati kami dan bilang "ada apa mas? bawaan ke kabin kan seberapa aja terserah, ga diitung berat". Pegawia itu langsung menangkis "Ini urusan saya sama dia, bukan urusan barang bagasi". Saya menunggu apa yaang akan pegawai itu katakan, akankah dia minta "uang". Si pegawai clingak-clinguk, dan akhirnya bilang "ya udah sana". Karena saya tidak puas akhirnya saya tanya lagi "jadi sudah selesai kan urusan ini", si pegawai hanya mengangguk. HUFFFFFF
------------------------------------------------------------------------------------
Perjalanan hampir memakan waktu 18 jam dengan waktu transit 4 jam di Dubai, 3 pemuda tadi menemani beberapa menit, dan akhirnya kami berpisah tanpa bilang "selamat jalan", karena mereka hanya pamit mau cari sarapan, dan tidak kembali lagi :D tetapi kita tetap kontak di Facebook. Terima kasih Mas Agus dan kawan-kawan. :)
Lanjutlah saya terbang ke Austria. Dagdigdug semakin kencang di dada ini, karena saya sudah mendapatkan sinyal jelek degan HF, tetapi saya tetap berharap keadaannya berubah. Sampailah di bandara internasional Vienna. Bertemulah saya dengan Host Mother (HM), juga 2 orang teman saya yang dengan senang hati menyambut saya di bandara, Lea dan Fitri, tapi sayang sekali saya harus langsung ke rumah, dan HM tidak menawarkan tumpangan kepada teman-teman sayam setidaknya tumpangan untuk keluar dari bandara, dan saya sadar BEGINIlah HM saya, dan saya juga sadar SAYA BUKAN DI INDONESIA LAGI.
Perjalanan menuju rumah agak suram, sepi bak kota mati, di dalam mobil kami mengobrol untuk membuat "atmosfer" yang baik. Sampailah saya di rumah dan bertemu dengan HF yang utuh. Ronald, Clemens, Cara dan PRINCESS CELINA. Sambutan yang lumayan baik, makan siang bersama dan mendarat di "pulau kapuk" MELEPAS LELAH hampir 24 jam.
Seminggu pertama saya ditunjukkan bagaimana dan apa saja kerjaan saya. Lagi, saya ditunjukkan bahwa saya mendapatkan HF yang "unfair", pekerjaan ditambah-tambah dari apa yang sudah ditulis di email, dan kalau tanggal merah saya tidak libur, serta überstunde yang tidak dibayar. Tetapi saya masih bisa bertahan dengan itu semua, ternyata kalau dengar dari teman-teman yang lain, saya masih lebih beruntung, tetapi yang susahnya adalah PRINCESS termasuk katagori anak yang berkebutuhan khusus karena lahir prematur, dia akan menjadi "wild" kalau dia "kumat", di sini lah fungsi saya sebagai Au-pair, jadi tidak ada alasan untuk mengeluh, walau selalu mengeluh :)
Sayangnya semakin hari saya semakin menjadi orang asing di rumah ini, bukannya mereasa bagian dari keluarga, dua anaknya yang sudah besar tidak mau berinteraksi dengan saya, setiap pulang sekolah mereka langsung masuk kamar dan asik berinternet ria, jam-jam biasapun tidak pernah mereka mengajak saya bicara atau beraktivitas bersama-sama, belum lagi soal makanan, karena saya harus masak sendiri, dan kultur orang timurnya masih terbawa, saya jadi tidak "enakan" kalau masak dan makan sendiri, sedangkan orang lain hanya tercium wangi masakannya saja, tetapi keadaannya terbalik ketika mereka yang masak atau makan. Saya hanya diam dan nrimo saja, walaupun mereka juga butuh saya, tetapi saya tinggal dengan mereka, saya harus tetap menghormati mereka.
Ada kejadian dua minggu yang lalu yang membuat saya sedih. Saat saya datang ke sini memang saya tidak membawa laptop saya, karena dengan alasan berat dan saya ingin tidak terlalu sering menggunakan internet, sebulan sekali cukup, dan saya pikir saya bisa pinjam dari HF saya. TERNYATA TIDAK BISA. Sedih bercampur sakit hati masuk ke diri saya, sebegitu pelitnya kah mereka, padahal saya ingin tau keadaan negara saya yang sedang diberi cobaan dan musibah. Astagfiirullah. Semoga mereka masih punya hati. Saya tetap terus mencoba baik terhadap mereka, karena orang menilai saya sebagai orang muslim, tidak akan pernah saya mencoreng nama keselamatan "islam". BISMILLAH.
Akhirnya tanggal 3 November 2010 sampailah laptop saya yang dikirim ayaah saya dengan ongkos kirim Rp. 1,6 juta dan HM kaget tidak percaya, "JA DU MUSST DAS WISSEN, MEIN VATER WIRD FÜR MICH ALLES TUN". Mulai hari itu saya bisa menggunakan internet lagi, dan waktu free saya habiskan di depan laptop ini (saya mulai kerja jam 10-11 pagi dan 4 sore - 7 malam. Belum lagi kursus yang baru mulai Januari dan belum mendapatkan satu temanpun di kota Langenzersdorf ini.
Saya terus bertahan, masih ada 10 bulan lagi, karena kedatangan saya telat sebulan. Tidak mau pindah HF, semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar